Siapa
yang akan menakhodai Kwarnas kelak? Itulah pertanyaan yang senantiasa
diributkan oleh banyak orang di kalangan GP. Dari satu pertanyaan
tersebut, tersembul berbagai jawaban dengan aneka kalimat dan pernyataan
yang ditawarkan. Tentu, di antara jawaban itu, ada salah satu
pernyataan yang tepat. Hanya saja, kita semua tidak tahu sebelum
diumumkan hasil Munas 2013 nanti di Kupang, NTT, tanggal 2 s.d. 5
Desember 2013.
Jawaban yang tampak logis dan fundamental adalah
jawaban yang mengacu pada hakikat GP dalam berperan di Indonesia.
Inilah peran GP di Indonesia. GP merupakan wadah pendidikan, menghimpun
anak muda, dan bersifat gerakan. Jadi, yang teramat layak memegang
tampuk Kwarnas kelak adalah mereka yang tidak saja memahami peran GP
tetapi juga menjiwai dan berproses secara total sejak menjadi peserta
didik. Dia bisa jadi pernah mendapatkan TKU, menjabat dewan kerja,
berkemah, berjambore, berraimuna, ber-PW, dan kegiatan yang lainnya.
Dengan begitu, luar dalam akan menjadi modal mengintegrasikan
kepemimpinan ke depan.
Mengapa
harus begitu? GP merupakan organisasi pendidikan yang bersifat gerakan.
GP itu memproduksi generasi masa depan dengan sentuhan kepramukaan.
Jika yang memimpin itu orang yang berjiwa, berperilaku, dan
berpengalaman kepramukaan tentu hasilnya akan berdimensi kepramukaan
pula. Memang benar, GP dapat dipimpin oleh siapapun asalkan kuat
kepemimpinan dan manajerialnya. Namun, akan lebih bagus jika GP dipimpin
oleh orang yang tidak saja mempunyai kepemimpinan dan manajerial, juga
dia mempunyai pengalaman nyata di kepramukaan.
Kala itu, sekitar tahun 1966,
setelah kwarnas menamakan pusdika dengan Candradimuka, Kolonel Laut
Muthalib yang bertugas sebagai andalan
urusan latihan Kwarda Jatim pada waktu itu, mengusulkan Dadika (Daerah
Pendidikan Pramuka) Jawa Timur dengan nama Argasonya.
Usulan tersebut diterima dengan senang hati oleh pelatih lainnya. Sampai saat
ini, Argasonya dipakai sebagai nama
tempat pelatihan kepramukaan di Jawa Timur. Cadika (Cabang Pendidikan Pramuka)
saat ini menjadi pusdikacab se-Jawa Timur sampai saat ini juga mempunyai nama
masing-masing, contohnya, Pamekasan dengan Nanggala, Ponorogo dengan Amerta,
Banyuwangi dengan Macanputih, Surabaya dengan Gunungsari, begitulah
seterusnya.
Kemudian, pada tahun 1978
dibentuklah Gelanggang Krida Pramuka (GKP) Jawa Timur di Sedati sebagai tempat
krida (kerja) para pramuka termasuk satuan karya. Pada saat itu pula, Dadika
berubah nama menjadi Lemdika yang lokasinya menyatu dengan GKP Argasonya. Pada
tahun 2011, GKP di Sedati dipindahkan ke Balongbendo dengan nama GKP Argasonya
yang di dalamnya terdapat Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda)
Jawa Timur.
Argasonya merupakan tempat
penggemblengan kepramukaan dari peserta didik, pembina, pelatih, instruktur,
orang dewasa, dan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kinerja kepramukaan,
membentuk insan Indonesia yang berbudi luhur sesuai dengan cita-cita Gerakan
Pramuka. Sentuhan yang digunakan dalam penggemblengan adalah Ketulusan, Cinta
Kasih, dan Kebahagiaan dengan prinsip dan metode kepramukaan.
Argasonya diambil dari sebuah nama
padepokan (tempat pendidikan) yang diasuh oleh seorang resi jelmaan Batara
Brama. Di Argasonya itulah seorang ksatria bernama Kakrasana (saudara kembar
Prabu Kresna) bertapa, menggembleng diri, dan mencari kesejatian hidup. Setelah
selesai berguru Kakrasana berubah nama menjadi Baladewa. Dari bertapa itu, ia mendapatkan
anugerah pusaka sakti yaitu senjata Nanggala
yang berwujud angkus (mata bajak), dan Alugora
berwujud gada dengan kedua ujung yang runcing. Selain itu Baladewa juga
mendapat Aji Jaladara yang dapat
terbang dengan kecepatan tinggi.
Baladewa adalah anak Prabu
Basudewa, raja Mandura dari Ibu yang bernama Dewi Mahendra. Ia mempunyai saudara
kembar yang bernama Kresna. Walaupun lahir kembar Baladewa dan Kresna adiknya
tidak sama. Baladewa berkulit putih, sedangkan Kresna berkulit hitam cemani. Baladewa
mempunyai adik wanita bernama Bratajaya atau Sumbadra.
Walaupun Baladewa terkenal sebagai raja yang mudah marah, ia jujur, adil, dan
tulus. Ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta maaf atas kesalahannya. Sejak
kecil Baladewa dan kedua adiknya diungsikan dan disembunyikan di kademangan
Widarakandang karena mendapat ancaman mau dibunuh oleh Kangsadewa. Di
kademangan Widarakandang Baladewa dan kedua adiknya diasuh oleh Demang
Antyagopa dan nyai Sagopi.
Baladewa beristeri Erawati anak
Raja Salya dari negara Mandaraka dan mempunyai dua anak laki-laki yaitu Wisata
dan Wimuna. Baladewa menjadi raja di Mandura menggantikan ayahnya Prabu
Basudewa. Nama lain dari Baladewa adalah Kakrasana, Karsana, Balarama, Wasi
Jaladara, dan Curiganata.
Pada saat perang Baratayuda
berlangsung, Baladewa justru tidak terlibat sama sekali. Hal ini disebabkan
karena rekayasa Prabu Kresna. Baladewa sengaja diselamatkan oleh Kresna dari
kemungkinan buruk yang bakal menimpanya, yaitu dengan meminta Baladewa bertapa
di Grojogan sewu. Tujuannya agar Baladewa tidak mendengar suara gemuruh perang,
karena tertutup oleh suara air terjun. Baru ketika perang Baratayuda sudah
usai, Baladewa sadar bahwa ia ditipu oleh adiknya. Baladewa meninggal dalam
usia lanjut. Ia sempat menyaksikan penobatan Prabu Parikesit menjadi raja
Hastinapura. Baladewa wafat menyusul Kresna adiknya yang terlebih dahulu muksa.
Kiasan dasar dalam kepramukaan itu merupakan salah satu metode
kepramukaan di antara metode yang lainnya. Oleh karena itu, dalam setiap
membina, pembina harus menerapkan kiasan dasar. Saat peserta didik
berlatih tali-temali, kiasan dasar harus digunakan sebagai bungkus
peserta didik dalam melakukan tali-temali. Saat peserta didik berlatih
morse, kiasan dasar harus menjadi bumbunya. Saat berkemah, kiasan dasar
harus digunakan untuk memperlancar kegiatan perkemahan itu. Begitulah
seterusnya.
Kiasan dasar (simbolic framework) digunakan oleh pembina pramuka di dunia ini. Berkat kiasan dasar itu, peserta didik dapat lebih enjoy,
lancar, dan mempercepat pemahaman melalui pengalaman tertentu. Dalam
dunia pendidikan, kiasan dasar itu hampir sama dengan metakognitif.
Metakognitif merupakan strategi belajar untuk menguatkan konsep melalui
metafora atau kata kunci yang memudahkan belajar. Jadi, gunakanlah
kiasan dasar sekuat-kuatnya.
Bagaimanakah menerapkan kiasan dasar itu? Tidaklah sulit bagi pembina
dalam menerapkan kiasan dasar. "Adik-adik, hari ini, kita akan membuat
jemuran agar baju basah dapat cepat kering," kata seorang pembina. Kata jemuran
itu merupakan kiasan dasar. Padahal, senyatanya, peserta didik membuat
ikatan melalui simpul agar terlatih daya konsentrasinya. Mereka tidak
membuat jemuran senyatanya karena tidak ada baju basah yang akan
dijemur. "Hari ini, kalian akan menjadi seorang pengirim informasi dari
jarak jauh kepada tim penolong. Nah, ayolah gunakan morse yang
dibunyikan tanpa kita melihat siapa yang membunyikan peluit itu," ucap
pembina. Seorang pengirim informasi dari jarak jauh kepada tim penolong itu merupakan kiasan dasar. Begitulah seterusnya.
Kiasan dasar tidak sekadar penamaan yang sudah ada dalam Gerakan Pramuka semata. Siaga, penggalang, penegak, pandega, regu, barung, reka, adat racana, sandi,
dan seterusnya merupakan bentuk kiasan dasar. Kisan dasar yang diambil
berasal dari perjuangan bangsa Indonesia dari masa 1908 sampai dengan
1945. Namun, pembina jangan hanya terfokus pada kiasan dasar yang sudah
ada saja. Pembina harus secara kreatif menciptakan kiasan dasar untuk
tujuan pendidikan yang diasuhnya.
Buatlah kiasan dasar yang seirama dengan usia anak. Kiasan dasar itu
tidak perlu rumit. Kiasan dasar harus sederhana, mudah dipahami, dan
sesuai dengan kejiwaan peserta didik. Apa yang terjadi di sekitar
peserta didik dapat dikiaskan. Apa yang menjadi tujuan pendidikan juga
dapat dikiaskan. Jadi, tidaklah susah untuk melakukan kiasan dasar.
Waktu yang disediakan 2 jam untuk materi kepemimpinan. Peserta
membayangkan jam kepemimpinan akan diisi oleh peserta yang mengantuk,
pasif, dan jenuh karena KPD sudah berjalan 4 hari dan sebelumnya mereka
praktik melatih seharian. Jam kepemimpinan dianggap sebagai jam untuk
beristirahat. Ternyata, anggapan itu keliru. Jam kepemimpinan justru
tidak ada ceramah sedikit pun. Semua peserta aktif melakukan perenungan
dan pemikiran akibat penugasan tiap orang.
Saya berpikiran juga seperti peserta, jam ini pasti menjenuhkan jika
saya menggunakan pola ceramah meskipun dengan gaya orasi. Lalu, rencana
melatih saya ubah dengan pola andragogi. Satu jam sebelum ke kelas, saya
mengguntingi pekerjaan dari tukang taman sampai dokter, dari pelayan
sampai pecundang, dan begitulah seterusnya. Jumlah kupon tulisan ada 70
pekerjaan. Tiap orang mendapatkan satu kupon.
Kelas saya buka dengan lagu dangdut Meggi Z. Peserta saya minta berdiri
lalu berjoget mengikuti irama. Mereka berjoget, senang, dan bersuka ria.
Tujuan sesi ini agar peserta melupakan persepsi yang lalu,
berkonsentrasi di materi kepemimpinan, dan mereka berada dalam suasana
riang saat belajar. Ternyata, kondisi itu sangat ampuh.
Kemudian, peserta menjelaskan isi profesi sesuai kupon mereka sambil
menjelaskan ke teman depannya. Mereka berpasangan. Wih, riuh sekali.
Mereka sangat memahami bahwa semua profesi mempunyai gaya kepemimpinan
yang berbeda-beda. Ada yang bermakna positif dan bermakna negatif.
Sungguh mereka belajar secara individu tanpa harus digurui.
Pada tahap akhir, peserta menyatakan bahwa kepemimpinan yang baru saja
bersama-sama dipelajari memberikan bekas di hati. Ternyata semua orang
mempunyai gaya kepemimpinan yang unik untuk mencapai tujuan. Selamat
menjadi pelatih.